MPKMB-cerita inspirasi

Nama   : Putri Gita Puspita

NRP    : I14100052

Laskar : 9 (sembilan) Cipto Mangunkusumo

Cerita Inspirasi 1:

Saat saya sekolah di SMA, tepatnya di kelas X, saya pernah meraih peringkat pertama di kelas. Peringkat tersebut membuat orangtua saya bangga terhadap saya, di semester dua saya meraih peringkat tiga, memang peringkat saya lebih turun dibandingkan semester satu. Hal ini disebabkan kegiatan ekstrakulikuler saya yaitu PASKIBRA yang membuat waktu belajar saya kurang. Walaupun peringkat saya turun, orangtua saya tidak terlalu memusingkannya, karena peringkatnya pun turun tak begitu jauh.

Berkat peringkat tersebutlah, di kelas XI saya masuk ke XI IPA 1, kelas unggulan di sekolah saya. Awalnya saya tidak menyukai saya masuk kelas unggulan, karena hobi saya bukan terlalu berkutat dengan buku, sedangkan teman di kelas saya hobinya adalah b-e-l-a-j-a-r. sewaktu kelas XI saya semakin disibukkan dengan kegiatan ekstrakulikuler, terlebih lagi saat saya masuk keanggotaan PASKIBRAKA Kota Depok. Setiap akhir minggu saya selalu ada kegiatan di balaikota, selain itu, saya mengikuti ls bahasa inggris yang lumayan menyita waktu dua hari saya dalam seminggu, tak jarang juga saya harus mengikuti latihan intensif setiap hari saat pasukan saya ingin mengikuti lomba.

Berkat kegiatan saya yang super padat itulah, peringkat saya jatuh ke angka 20 dari 36 siswa/i di kelas. Saya tahu, orangtua saya pasti kecewa dengan peringkat tersebut, apalagi sebelumnya saya mendapat peringkat tiga. Saya menjadi anak yang pemalas, suka tidur di kelas (maklum, saat kelas XI saya sering kurang tidur) hingga pernah ditegur oleh beberapa orang guru saya, PR jarang dikerjakan, kalaupun saya kerjakan itu pun hasil ‘copas’ teman, bahkan jika ada kerja kelompok, teman saya yang tidak beruntung bisa berkelompok dengan saya merasa kecewa karena saya jarang hadir untuk mengerjakan tugas. Entahlah, mengapa saya bisa ada di masa ‘jahiliyah’ sewaktu kelas XI, mungkin karena pada awalnya dalam diri saya sudah ada penolakan untuk tidak mau berada di kelas unggulan. Guru pelajaran fisika saya pun mengkambinghitamkan, ekstrakulikuler saya dengan penurunan prestasi saya di kelas, wali kelas pun tak jauh beda dengan guru fisika saya.

Saat naik ke kelas XII, saya berniat untuk melakukan revolusi, perubahan cepat yang merubah hidup saya. Saat kelas XI, tak satupun ilmu masuk ke diri saya, saya bertekad untuk berubah, mulai hari pertama sekolah, saya sudah memulai membuat catatan pelajaran, saya selalu mendengarkan ceramah guru, mengerjakan tugas, maju ke depan untuk mengerjakan soal dari guru, tidak pernah lagi cabut pelajaran, sampai di tempat les saya selalu mengejar pelajaran saya yang kurang saat di sekolah.

Hingga akhirnya, pada awal Desember saya menberanikan diri mengikuti USMI IPB, saya menjatuhkan Ilmu Gizi FEMA pada pilihan pertama dan Biokimia MIPA pada pilian kedua. Saya memilih kedua mayor tersebut karena mendapatkan ‘wangsit’ setelah sholat isya. SUREPRISINGLY, awal Februari saya mendapatkan kabar dari guru BK saya, bahwa saya diterima di IPB mayor Ilmu Gizi, yang sangat favorit di IPB. Alhamdulillah, guru dan teman kelas XI tidak percaya saya bisa diterima USMI, mulai saat itu saya tidak lagi diremehkan teman dan guru saya lagi, teman saya pun mencoba mencontoh perilaku saya, bukan yang negatifnya lho .. J

Terimakasih ya Allah, engkau telah merubah nasibku hingga seperti ini ..

Nama   : Putri Gita Puspita

NRP    : I14100052

Laskar : 9 (sembilan) Cipto Mangunkusumo

Cerita Inspirasi 2:

Saat saya sekolah di SMA, saya mempunyai seorang teman, inisialnya V. Dia adalah siswa salah satu SMA Negeri favorit di Depok. V termasuk siswa yang lemah dalam pelajaran eksak., hamper setiap pelajaran eksak V selalu remedial.

“Kamu itu sebenarnya mau masuk STAN, tapi matematika selalu remedial? Lama-lama kalau nilai kamu terus-terusan mengkhawatirkan seperti ini, kamu tidak bisa masuk STAN.” ucap salah satu guru yang mengajar di kelasnya. “Udahlah V, V gak usah ikutan debat, omongan guru kayak dia mah gausah didenger! Oke?!” temannya menyemangati V agar tidak terlalu jatuh akibat perkataan guru itu.

V yang tidak tahan dengan olok-olokan yang dia dengar setiap hari akhirnya berontak. V menceritakan semua masalahnya kepada pacarnya yang inisialnya S.

Sebagai seorang pacar yang baik, S menyemangati V dan membelikan V buku-buku gudang soal masuk STAN. V pun termotivasi untuk berubah menjadi yang lebih baik. V terus belajar, belajar, dan belajar.

Saat kelas XII (duabelas), nilai eksak V menjadi nilai lebih baik di kelas. Teman-temannya menjadi sangat kagum padanya. V telah membuktikan pada teman-temanya bahwa dia mampu bahkan bisa lebih. Akhirnya V diterima menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Akutansi Negara Perpajakan tahun angkatan 2010.

Comments